Menghidupkan Empati: Pelatihan CONNECT untuk Konselor SMP di Kabupaten Semarang

Pendahuluan
Empati bukan sekadar kemampuan memahami orang lain, melainkan kehadiran utuh yang menghubungkan dua manusia dalam relasi pertolongan. Namun, dalam realitas praktik konseling di sekolah, empati kerap tergerus oleh tuntutan administratif, tekanan kurikulum, serta keterbatasan ruang refleksi dan pelatihan bagi konselor.
Berdasarkan hasil studi dan disertasi penulis, dikembangkan sebuah pendekatan yang menempatkan relasi empatik sebagai inti proses konseling, yaitu CONNECT. CONNECT berakar pada Person Centered Neuroeducation (PCN)—yang memadukan pendekatan humanistik Carl Rogers dengan prinsip-prinsip neurobiologi sosial—dan diperluas agar relevan bagi praktik pertolongan di konteks pendidikan.
Melalui CONNECT, empati dipahami sebagai proses sadar yang melibatkan keterhubungan antara otak, emosi, tubuh, dan makna eksistensial. Dalam pelatihan ini, peserta tidak hanya belajar teknik mendengarkan, tetapi juga mengembangkan kualitas kehadiran, regulasi emosi, serta penerimaan tanpa syarat sebagai fondasi relasi penyembuhan.
Pada bulan Mei 2025, pelatihan CONNECT dilaksanakan kepada tujuh guru Bimbingan dan Konseling SMP di Kabupaten Semarang dalam lima sesi utama. Artikel ini merekam proses transformasi para peserta sebagai refleksi dari bagaimana empati dapat ditumbuhkan, dilatih, dan dihidupi secara nyata dalam praktik konseling sekolah.
Transformasi Para Peserta
1. Sulistyowati, S.Pd., M.Pd., Kons. – SMPN 2 Pringapus
Dalam setiap sesi CONNECT, Bu Sulis merefleksikan pentingnya mencintai dan menerima diri sendiri sebagai dasar untuk menerima orang lain. Ia menuliskan, “Penting bagi kita untuk mencintai diri dan menerima diri sendiri apa adanya, juga penting untuk kita bisa menerima orang lain apa adanya.”
Melalui latihan kehadiran dan ketenangan diri, ia belajar menjaga regulasi emosi agar dapat hadir lebih utuh dalam proses konseling. “Selalu konsisten untuk bisa memunculkan ketenangan agar membantu diri dan orang lain memahami serta menerima diri dan orang lain secara utuh,” tulisnya.
Di sesi akhir, Bu Sulis sampai pada keyakinan bahwa setiap klien pada dasarnya baik. Ia mencatat, “Percaya tidak ada klien yang tidak baik, semuanya baik sehingga kita mempercayai mereka.” Baginya, esensi konseling terletak pada penerimaan utuh dan kehadiran tanpa syarat, yang memungkinkan klien mengambil keputusan hidup ke arah yang lebih konstruktif.
Refleksi ini tampak dalam praktik ketika ia menghadapi siswa yang terlibat perkelahian. Alih-alih fokus pada benar–salah, Bu Sulis menangkap ketakutan mendalam di balik perilaku siswa tersebut—ketakutan akan kehilangan perhatian dan kasih sayang ayahnya. Ia menyadari bahwa tugas konselor dalam kerangka CONNECT adalah menghadirkan penerimaan empatik agar siswa merasa layak diterima, apa pun kondisinya.
2. Setyo Budi Utomo, S.Pd., M.Pd. – SMPN 1 Bancak
Setyo memulai pelatihan CONNECT dengan beban emosi yang besar dan rasa tidak percaya diri. Dalam sesi awal, satu kata—“tulus”—menjadi titik balik baginya. Ia menulis bahwa pengalaman menerima ketulusan membuatnya mulai memandang dirinya sebagai pribadi yang berharga.
Pelepasan emosi yang ia alami berdampak signifikan pada regulasi dirinya. “Pikiran saya menjadi tenang, dan saya bisa tidur nyenyak setelah berbulan-bulan mengalami gangguan tidur,” tulisnya. Seiring sesi berjalan, Setyo merasakan peningkatan makna dalam perannya sebagai ayah dan sebagai konselor.
Perubahan ini tampak saat ia mendampingi siswa asuh yang sering melanggar aturan. Ia memilih hadir dengan empati, melakukan kontak mata, dan menyampaikan penerimaan: “Kamu boleh marah, tapi ingat kamu berharga.” Respons emosional siswa muncul spontan—menangis dan membuka luka relasi dengan orang tua.
Dalam sesi lain, Setyo menekankan pentingnya menenangkan diri sebelum konseling agar siswa tidak merasa terintimidasi. Dengan penerimaan tanpa syarat dan jaminan kerahasiaan, siswa berani membuka ketakutannya. CONNECT membantunya menjadi figur yang aman dan menenangkan bagi siswa.
3. Zaenatun, S.Pd., M.Si. – SMPN 2 Ambarawa
Bu Zen menunjukkan integrasi yang kuat antara pembelajaran CONNECT dan praktik lapangan. Dalam interaksi dengan siswa bermasalah, ia menegaskan kepercayaan pada potensi kebaikan siswa: “Bu Zen percaya kamu akan melakukan yang terbaik untuk dirimu.”
Perubahan tampak jelas—dari tatapan kosong menjadi penuh semangat—menunjukkan bahwa empati autentik mampu menyalakan kembali motivasi internal siswa.
Dalam momen lain, Bu Zen menghadapi siswi yang datang namun tak mampu berbicara. Dengan kehadiran penuh, ia menangkap ketegangan emosional dan memberi izin untuk menangis. Pelukan dan penerimaan tanpa syarat menjadi jembatan yang memungkinkan siswi tersebut merasa aman dan akhirnya membuka diri. Bu Zen merefleksikan bahwa penerimaan empatik adalah kunci kehadiran yang kongruen dalam CONNECT.
4. Fariza Puji Yunanto, M.Pd. – SMPN 5 Ungaran
Melalui CONNECT, Fariza mengalami pergeseran kesadaran dari memberi nasihat menuju membangun ruang aman. Ia menuliskan bahwa unconditional trust dan penerimaan tanpa syarat membuat klien merasa dihargai dan berani jujur terhadap dirinya sendiri.
Pengalaman ini terasa kuat ketika ia mendampingi siswa kelas IX yang hidup mandiri di kos dan bekerja sepulang sekolah. Meski tanpa kata sedih, Fariza merasakan beban emosional yang berat. Dengan empati verbal dan non-verbal, ia hadir mendampingi tanpa menghakimi, memungkinkan konseli merasa dilihat dan diterima.
5. Cahya Kurniawati, S.Pd. – SMPN 1 Bringin
Bu Cahya menunjukkan peningkatan ketulusan dan kepekaan emosi. Ia belajar untuk tidak tergesa menafsirkan perasaan klien, melainkan hadir dan merasakan bersama. Proses CONNECT membuatnya lebih tenang, rileks, dan mampu meregulasi emosi.
Kemampuan ini tercermin saat ia mendampingi sahabat dekat yang memikul beban keluarga berat. Bu Cahya hadir dengan empati dan penguatan, meyakinkan sahabatnya bahwa ia layak bahagia. Ia merefleksikan bahwa empati, penerimaan tanpa syarat, dan kerja mirror neuron membantunya hadir secara utuh dan kongruen.
6. Astia Meilinda Supriyadi, S.Pd. – SMPN 1 Bawen
Bu Astia mengalami transformasi emosional yang mendalam. Penerimaan diri dan kasih tanpa syarat memperbaiki relasinya dengan pasangan. Dengan kehadiran penuh dan empati, percakapan mendalam dengan suaminya menjadi ruang pelepasan emosi dan pemulihan relasi.
Setelah pelatihan CONNECT, ia merasakan perubahan cara pandang yang lebih positif dan ketenangan dalam menghadapi orang lain. Ia juga menyoroti peran fasilitator yang mampu menciptakan rasa aman melalui empati dan kehadiran utuh.
7. Taryani, S.Pd., M.Si. – SMPN 2 Ambarawa
Bu Tary menunjukkan perkembangan dalam membangun kepercayaan dan ketenangan. Ia mulai meyakini bahwa setiap individu pada dasarnya mengarah pada kebaikan. Keyakinan ini memungkinkannya memancarkan ketenangan dan menciptakan ruang aman bagi klien.
Dalam praktik, empati yang tulus membuat siswa berani membuka diri dan menentukan langkah penyelesaian masalahnya sendiri. Transformasi ini mencerminkan integrasi refleksi personal dan penerapan CONNECT dalam konseling yang empatik dan efektif.
Kesimpulan: Empati adalah Kekuatan yang Bisa Dilatih
Pelatihan CONNECT, yang berakar pada Person Centered Neuroeducation, memberikan ruang aman bagi konselor untuk tidak hanya mempelajari konsep, tetapi juga mengalami proses pembentukan ulang diri. Ketika konselor mampu menerima diri sendiri secara utuh, mereka menjadi lebih mampu menghadirkan empati yang autentik bagi konseli.
Transformasi para peserta menunjukkan bahwa empati bukan semata bakat bawaan, melainkan kapasitas yang dapat ditumbuhkan, dilatih, dan dipraktikkan secara sadar. Dengan mengintegrasikan aspek afektif, kognitif, dan neurologis, CONNECT membuka jalan menuju praktik konseling yang lebih manusiawi, hangat, dan bermakna.
Semarang, Juli 2025
Dr. Veny Mulyani, M.Psi., Psikolog
Founder Veny Mulyani and Partners Clinic
S3 Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Semarang